Di masa kini ketika banyak hal berlomba menjadi viral, ada sosok yang karyanya bertahan berabad-abad. Beliau adalah Imam Muhammad bin Sa'id al-Bushiri, penyair ulama yang menciptakan Qasidah al-Burdah — puji-pujian kepada Rasulullah ﷺ yang dikenal luas di seluruh dunia dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Kisahnya bukan hanya soal keindahan syair. Al-Bushiri menulis Burdah saat sedang menderita sakit berat, penuh doa dan pengharapan. Dikisahkan beliau bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ dan menerima selendang, lalu sembuh. Kisah ini menjadi warisan spiritual yang patut dihormati sebagaimana tradisi yang diwariskan.
Ada pelajaran mendalam bagi kita: karya besar sering lahir dari hati yang sedang berjuang. Kesedihan bisa menjadi renungan, kegelisahan bisa berubah doa, dan cinta yang tulus melahirkan karya yang menginspirasi sepanjang masa.
Namun cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ucapan pujian. Cinta harus tampak dalam sikap dan perbuatan. Allah berfirman:
"Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian."
QS. Ali 'Imran: 31
Jangan hanya mengagumi tokoh, pelajari nilai yang mereka perjuangkan. Jangan hanya menghafal kata indah, wujudkan dalam akhlak. Dan jangan sekadar ingin dikenal — pastikan karya kita membawa manfaat bagi sesama.
Imam al-Bushiri membuktikan pena bisa menjadi sarana pengabdian. Satu syair bisa melintasi masa, satu karya yang lahir dari ketulusan hidup jauh lebih lama daripada penciptanya. Kita tak harus menjadi penyair besar, tapi bisa meneladani beliau: jadikan kemampuan yang dimiliki untuk mencintai kebaikan, memperindah watak, dan memberi manfaat. Karena karya terbaik bukan yang paling banyak dipuji, melainkan yang meninggalkan kebaikan setelah kita tiada.
0 Komentar