Framing "Jarang Ngantor": Politik Dangkal yang Kehabisan Isu

Oleh: Rizal Arif Baihaqi - Dewan Penasehat Kawan Robinsar (KAISAR)

Narasi “wali kota jarang ngantor” bukan kritik. Ia adalah strategi. Strategi yang lahir ketika serangan terhadap kebijakan tidak menemukan celah yang cukup kuat. Maka yang dicari bukan substansi, melainkan simbol.

Kantor dijadikan panggung. Kursi kosong dijadikan metafora. Lalu publik diajak percaya bahwa kekosongan ruangan identik dengan kekosongan kerja.
Ini bukan analisis. Ini propaganda visual.

Dalam politik modern, ketika program berjalan dan keputusan tetap diambil, lawan politik kerap memindahkan arena serangan dari ranah kebijakan ke ranah persepsi. Mereka tahu bahwa menyerang data membutuhkan argumen. Tetapi menyerang simbol hanya membutuhkan gambar.

Foto kantor lengang lebih mudah viral daripada laporan kinerja 200 halaman.
Masalahnya, logika ini merendahkan kecerdasan publik.

Apakah kepemimpinan diukur dari berapa lama tubuh seorang wali kota duduk di balik meja? Jika demikian, maka pejabat paling sukses adalah yang paling jarang turun ke lapangan. Apakah itu yang kita inginkan?

Rumah dinas kepala daerah adalah fasilitas negara yang melekat pada jabatan. Di sana berlangsung rapat, koordinasi, penandatanganan dokumen, komunikasi strategis. Kerja tetap berjalan. Bahkan sering kali lebih intens karena tidak dibatasi jam formal.

Namun narasi “jarang ngantor” sengaja mengabaikan fakta itu. Mengapa? Karena tujuan framing bukan mencari kebenaran, melainkan membangun persepsi.

Kita harus jujur, bahwa ketika kritik tidak lagi membedah substansi kebijakan, tidak lagi berbicara tentang pelayanan publik, anggaran, investasi, atau respons krisis, maka kritik itu sedang mengalami kemunduran intelektual.

Politik tidak boleh direduksi menjadi absensi.

Demokrasi membutuhkan pengawasan yang tajam, bukan sindiran yang dangkal.

Menggiring opini publik dengan simbol-simbol administratif adalah bentuk kemalasan politik atau sebuah shortcut untuk membangun stigma tanpa kerja analitis.

Kita tidak sedang memilih penjaga gedung. Kita memilih pemimpin yang bekerja, mengambil keputusan, dan memikul tanggung jawab 24 jam.

Jika kerja berjalan dan tanggung jawab ditunaikan, maka yang patut dipertanyakan bukan lokasi kerjanya, melainkan motif di balik narasi yang terus diproduksi.

Karena ketika serangan berhenti pada pintu kantor, itu pertanda bahwa perdebatan substansi sudah kehabisan bahan bakar. Dan politik yang kehabisan substansi biasanya memilih sensasi.

Posting Komentar

0 Komentar