Banten dikenal sebagai tanah para ulama. Salah satu tokoh yang tak terlupakan adalah Syekh Abdul Karim, tokoh penting dalam perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Nusantara. Beliau menjadi mata rantai ilmu dan kerohanian yang menghubungkan Banten dengan pusat keilmuan Islam.
Tasawuf yang beliau ajarkan bukan menjauhi dunia, melainkan tidak diperbudak olehnya. Harta boleh dimiliki, tapi jangan kuasai hati. Kedudukan boleh diraih, tapi jangan lahirkan kesombongan. Ilmu boleh tinggi, tapi harus disertai kerendahan hati.
Di zaman serba cepat ini, kita sering mengejar materi tanpa henti, namun kehilangan ketenangan. Para ulama mengingatkan: perjalanan manusia bukan hanya jasad, melainkan jiwa. Kita butuh ilmu menerangi akal, akhlak menjaga perilaku, dan kerohanian menenangkan hati.
Ilmu harus diwariskan bersama adab. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan; kerohanian tanpa ilmu kehilangan arah. Syekh Abdul Karim mengajarkan bahwa ilmu berpindah bukan sekadar dari kepala ke kepala, melainkan disertai tanggung jawab dan keteladanan.
Mengenang beliau berarti mengenang perjalanan mendekatkan diri kepada Allah. Di tengah kegelisahan zaman, kita butuh kembali ke cahaya para ulama — berjalan dengan adab, keikhlasan, dan kerendahan hati. Sebab perjalanan terjauh bukan melintasi bumi, melainkan perjalanan hati pulang kepada Tuhannya.(*)
0 Komentar