Rektor UIN Banten Disorot, SK Baru IKA Picu Polemik di Kalangan Alumni

SERANG - Kebijakan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali menjadi sorotan tajam di kalangan alumni. Penerbitan Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 91 Tahun 2026 tentang Pengesahan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UIN SMH Banten Periode 2026–2030 dinilai memicu kegaduhan dan perpecahan di tubuh alumni.

SK yang ditetapkan pada 9 April 2026 tersebut menuai kontroversi karena dianggap dikeluarkan secara sepihak tanpa proses komunikasi yang terbuka dan partisipatif dengan para alumni.

Lebih jauh, dalam keputusan tersebut juga terdapat pemberhentian pengurus IKA sebelumnya, yang dinilai tidak melalui mekanisme organisasi yang lazim dan berkeadaban.

Sejumlah alumni menyayangkan langkah tersebut karena berpotensi merusak soliditas dan semangat kebersamaan yang selama ini dibangun di lingkungan IKA UIN SMH Banten. Alih-alih memperkuat peran alumni sebagai mitra strategis kampus, kebijakan ini justru dinilai memperdalam fragmentasi di internal organisasi alumni.

Taufik Rahmat, alumni muda angkatan 2012 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang berkembang. Ia menilai bahwa keputusan rektor tersebut perlu segera dikaji ulang demi menjaga keharmonisan antar alumni.

“Kami melihat ada kegaduhan yang nyata di kalangan alumni. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Rektor sebagai pimpinan tertinggi kampus seharusnya menjadi penyejuk, bukan justru memicu polemik,” ujar Taufik.

Ia juga mendesak agar Rektor UIN SMH Banten segera mengambil langkah konkret untuk meredam konflik yang terjadi, termasuk dengan membuka ruang dialog bersama seluruh elemen alumni.

“Kami meminta agar SK Nomor 91 Tahun 2026 tersebut ditinjau kembali, bahkan jika perlu ditarik, demi menjaga marwah kampus dan persatuan alumni,” tegasnya.

Menurutnya, IKA sebagai wadah alumni seharusnya dikelola secara independen, demokratis, dan menjunjung tinggi prinsip musyawarah. Intervensi sepihak, kata dia, hanya akan memperkeruh situasi dan mencederai nilai-nilai akademik yang dijunjung tinggi oleh perguruan tinggi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten terkait polemik yang berkembang.

Situasi ini menjadi ujian penting bagi kepemimpinan kampus dalam menjaga hubungan harmonis dengan para alumni, yang selama ini berkontribusi dalam mendukung kemajuan institusi. (*)

Posting Komentar

0 Komentar