CILEGON — Program yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi pelajar justru menyisakan ironi. Sebanyak 49 siswa Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-Inayah dilaporkan mengalami gejala yang diduga keracunan makanan usai menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih mendapat tambahan nutrisi, puluhan siswa itu justru mengalami keluhan kesehatan seperti mual, pusing, dan muntah.
Makanan yang mereka konsumsi diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur 8 Asa Beton, di bawah naungan Yayasan Nurani Dhuafa Indonesia.
Namun, di tengah situasi yang semestinya membutuhkan kejelasan dan tanggung jawab, para pihak terkait justru memilih diam.
Upaya konfirmasi kepada pihak sekolah tidak mendapat respons. Pesan yang dikirim melalui WhatsApp tak berbalas. Puskesmas yang menangani para siswa pun tak memberikan keterangan apapun, seolah menutup rapat informasi yang seharusnya menjadi hak publik.
Ketua Yayasan Nurani Dhuafa Indonesia, Irfan Ali Hakim, turut dikonfirmasi. Hasilnya sama tanpa jawaban.
Kebungkaman berlapis ini justru mempertegas dugaan buruk yang tidak beres dan belum dijelaskan ke publik.
Tokoh pemerhati masyarakat, Budi Yanto, menilai peristiwa ini sebagai tamparan keras bagi program pemenuhan gizi. “Harusnya menambah gizi, malah diduga berujung keracunan. Ini sangat miris,” ujarnya.
Menurut dia, kejadian ini tidak bisa dipandang sebagai insiden biasa. Ada tanggung jawab besar yang melekat pada penyedia makanan, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi.
“Perlu evaluasi total. Apakah prosedur sudah dijalankan? Apakah dapur penyedia memenuhi standar? Atau justru ada kelalaian yang selama ini ditutup-tutupi?” kata pria yang sering disapa Budi.
Ia mengingatkan, program berbasis konsumsi massal seperti MBG tidak memberi ruang bagi kesalahan. Satu titik lemah dapat berdampak luas.
Di tengah minimnya penjelasan resmi, publik kini dihadapkan pada pertanyaan yang belum terjawab, apakah ini sekadar kelalaian teknis, atau ada persoalan sistemik dalam pengelolaan program?
Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih belum dipastikan. Dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan penelusuran lebih lanjut.
Namun satu hal yang sudah nyata, ketika puluhan siswa jatuh sakit, yang paling dibutuhkan bukan diam, melainkan kejelasan. (Lid)
0 Komentar