CILEGON – Penanganan banjir di Kota Cilegon kembali menjadi sorotan. Koordinator Presidium Ikatan Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Cilegon (IKA IMC), Deri Saputra, menilai langkah mitigasi Satgas Banjir masih belum menjawab kebutuhan mendesak masyarakat saat musim hujan.
Menurut Deri, program seperti penanaman pohon memang penting untuk jangka panjang guna menjaga daya serap tanah. Namun, dampaknya baru akan terasa beberapa tahun ke depan, sehingga belum menjawab kebutuhan penanganan banjir dalam jangka pendek maupun menengah.
“Menanam pohon itu baik, tapi dampaknya baru terasa beberapa tahun ke depan ketika pohon-pohon itu sudah besar dan mampu menyerap air lebih banyak,” ujar Deri, Minggu (8/3/2026).
Ia menegaskan, saat ini dibutuhkan langkah yang lebih cepat dan konkret. Salah satu yang disorot adalah minimnya peralatan evakuasi tim penanganan bencana. “Yang lebih urgent sekarang adalah penambahan perahu karet untuk evakuasi warga dan pompa air untuk mengatasi genangan yang lama surut,” katanya.
Deri menjelaskan, meski pemerintah sudah memiliki BPBD dan melakukan perbaikan saluran air di beberapa titik, kesiapan alat evakuasi masih kurang jika banjir terjadi secara merata di banyak wilayah.
“Mitigasi bencana sebenarnya sudah ada melalui BPBD, perbaikan saluran juga dilakukan. Tetapi ketika banjir terjadi secara luas, kita masih kekurangan alat untuk evakuasi warga,” jelasnya.
Karena itu, IKA IMC mendorong pemerintah daerah dan Satgas Banjir tidak hanya fokus pada program jangka panjang, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan dengan menyediakan sarana dan prasarana tanggap darurat. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak banjir bagi masyarakat, terutama warga di kawasan rawan genangan saat curah hujan tinggi. (*)
0 Komentar