Nyanyian Cinta untuk Abu Bakar Ash-Shiddiq

Oleh Arifin Al Bantani
 
Di Sisi Cahaya
 
Wahai engkau yang namanya bergetar lembut di doa subuh,
imanmu seperti embun—jatuh tanpa suara namun menghidupkan bumi retak.
Ketika langit Makkah gelap oleh dusta,dan manusia ragu menimbang wahyu, engkau tak bertanya panjang—
hatimu lebih dulu sujud,
membenarkan cahaya
sebelum mata mencari bukti.
 
Di Gua Tsur, angin malam membawa cemas,
langkah musuh bergetar di atas kepala, dunia terasa sempit oleh ancaman— namun dadamu adalah samudra tenang.
"Aku tak takut untuk diriku,"
seperti doa yang tak selesai,
"aku hanya takut jika engkau disakiti." Betapa cinta itu menjelma air mata,
bukan karena lemah,
melainkan karena terlalu dalam
untuk ditampung dada manusia.
 
Wahai Ash-Shiddiq—
engkau adalah setia yang tak berisik,pengorbanan yang tak minta saksi.Hartamu mengalir seperti sungai yang tak pernah menagih airnya. Engkau mencintai Rasul
bukan dengan syair,
tetapi dengan seluruh hidup.
 
Ketika dunia bersimpuh,
dan amanah khilafah berat seperti gunung, engkau berdiri dengan suara bergetar:

"Yang lemah di antara kalian akan kuat di sisiku,
yang kuat akan lemah jika ia zalim." Lembut— namun tegas seperti matahari yang pasti terbit.
 
Wahai Abu Bakar, cintamu adalah doa panjang
yang tak pernah selesai hingga kini.
 
 Pesan untuk Generasi Hari Ini
 
Wahai generasi yang jantungnya berdenyut di antara notifikasi dan gemuruh dunia, dengarlah bisikan sejarah. Belajarlah mencinta seperti Abu Bakar— cinta yang tak sibuk dipamerkan, namun sibuk dibuktikan.
 
Di zaman ketika kesetiaan mudah gugur demi pujian sesaat,
jadilah jiwa yang tetap tinggal
meski badai menyuruh pergi.
Di zaman ketika kebenaran dinegosiasi oleh kenyamanan dan popularitas, jadilah orang yang membenarkan cahaya
meski sendirian berdiri.
 
Karena dunia hari ini
tak kekurangan orang pintar—
ia kekurangan hati yang tulus. Jika kau ingin membangun peradaban, mulailah dari hal sederhana: setia pada Allah saat tak ada yang melihat,
jujur saat tak ada yang menilai,
berani saat semua memilih diam. Peradaban tak dibangun
oleh gemuruh suara, melainkan oleh hati-hati yang sujud
dalam sunyi. Di sanalah—
cinta seperti milik Abu Bakar
akan selalu menemukan jalannya.

Posting Komentar

0 Komentar