Ngaruwat Bumi: Merawat Alam, Membersihkan Hati

Oleh  : Arifin Al Bantani
 
Di tanah Banten, bumi bukan sekadar pijakan, melainkan ruang sujud bagi manusia. Ngaruwat Bumi hadir sebagai tradisi agraris yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah penanam, sementara hasil akhir sepenuhnya ada dalam kehendak Tuhan.
 
Ngaruwat berarti membersihkan—bukan hanya menjaga tanah dari bala, tetapi menyucikan hati dari kesombongan. Tradisi ini merupakan ikrar batin untuk merawat alam sebagaimana alam telah menghidupi manusia.
 
Saat ritual berlangsung, warga berkumpul mengucap syukur atas hasil panen. Doa dan ayat suci dilantunkan sebagai pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta. Di sini, nilai sosial menguat; warga duduk sejajar tanpa memandang status, karena keberkahan lahir dari keikhlasan berbagi.
 
Namun, zaman kini mulai menggerus tradisi ini. Alam sering dieksploitasi tanpa kepedulian, dan generasi muda kian jauh dari nilai-nilai kearifan lokal. Padahal, Ngaruwat Bumi berakar pada tauhid: pengakuan bahwa hanya Allah pemberi rezeki.
 
Di tengah ancaman krisis ekologis seperti banjir dan kekeringan, Ngaruwat Bumi menjadi pesan penting untuk menjaga keseimbangan alam. Melestarikan tradisi ini bukan sekadar menjaga ritual masa lalu, melainkan menanamkan kembali kesadaran bahwa hubungan manusia dengan alam adalah sebuah amanah.
 
Ngaruwat Bumi adalah cara kita memaknai kehidupan—mengajarkan manusia untuk tetap rendah hati agar hidup tetap lestari.

Posting Komentar

0 Komentar