Beluk dan Generasi Digital: Merawat Kedalaman di Dunia Serba Instan

Oleh: Arifin Al Bantani
 
Generasi digital hidup di era serba cepat, di mana informasi diringkas dan perhatian mudah teralih. Di tengah keriuhan ini, Beluk—seni tutur tradisional yang mengandalkan napas panjang dan kesabaran—terasa seperti suara asing yang mulai terlupakan.
 
Beluk menuntut waktu dan perhatian penuh, sesuatu yang jarang ditawarkan dunia digital. Bagi generasi yang terbiasa dengan pesan instan, Beluk mungkin terasa lambat. Namun, seni ini memberi pelajaran berharga: bahwa tidak semua hal bermakna bisa didapatkan secara cepat dan mudah.
 
Di balik melimpahnya informasi digital, sering kali terjadi kekosongan makna karena hilangnya kemampuan untuk menyimak dengan dalam. Beluk mengajak kita berhenti sejenak untuk kembali belajar mendengarkan. 

Seni ini juga mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk menjaga ingatan kolektif, bukan pengganti yang memicu kelalaian.
 
Ironisnya, teknologi bisa menjadi jembatan penyelamat. Media sosial dan dokumentasi digital dapat memberi ruang baru bagi Beluk untuk tetap hidup. Tantangannya kini ada pada niat generasi muda: apakah tradisi ini hanya dianggap sebagai konten, atau warisan yang dihormati?
 
Beluk dan generasi digital sejatinya bisa saling menguatkan. Beluk menawarkan kedalaman, sementara teknologi menawarkan jangkauan. Menjaga Beluk berarti merawat kemampuan manusia untuk hadir sepenuhnya dalam sebuah cerita. Di dunia yang serba singkat, Beluk mengingatkan bahwa makna sejati sering kali membutuhkan napas yang panjang.

Posting Komentar

0 Komentar