Tradisi Saweran Masih Lestari di Cilegon, Simbol Syukur dan Kepedulian Sosial

CILEGON - Tradisi saweran hingga kini masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Kota Cilegon. Bagi warga setempat, saweran bukan sekadar hura-hura, melainkan simbol rasa syukur sekaligus sarana menanamkan nilai kepedulian sosial sejak dini.

Seperti yang dilakukan tokoh masyarakat Ciwandan Kota Cilegon, Wawan Ikhwani, yang menggelar syukuran kelahiran cucunya bernama Arzhan Khan Alkautsar. 

Momen tersebut berlangsung dalam suasana keseruan kebersamaan dan kekeluargaan.
Wawan Ikhwani yang juga Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Cilegon menjelaskan, tradisi saweran di Cilegon, khususnya di wilayah Ciwandan, mencakup berbagai fase kehidupan masyarakat.

“Tradisi saweran biasanya dilakukan mulai dari kelahiran bayi, saat anak mulai bisa berjalan, hingga momen syukuran setelah membeli kendaraan baru sebagai bentuk permohonan doa keselamatan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kuatnya tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Cilegon,  masih menjaga nilai-nilai budaya warisan leluhur.

“Khususnya di Ciwandan, budaya saweran masih sangat kental. Seperti sekarang ini, untuk cucu saya Arzhan, kami mengadakan saweran sebagai bentuk rasa syukur atas kelahirannya. Harapannya agar sang bayi sehat, panjang umur, dan kelak menjadi sosok yang bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya.

Ia merinci bahwa ada dua jenis saweran yang populer, terutama dalam pesta pernikahan. Pertama, Sawer Tabur yang berisi campuran beras kuning, uang logam dan permen yang biasanya menjadi rebutan anak-anak.

"Beras kuning itu simbol kemakmuran, seperti filosofi padi yang satu tangkainya berisi banyak biji. Harapannya, pengantin tidak kekurangan pangan dan hidup sejahtera," jelasnya.

Kedua adalah Sawer Kong, di mana pihak tuan rumah menyediakan baskom (kong) besar untuk menerima saweran dari keluarga terdekat sebagai bentuk dukungan gotong royong bagi pasangan pengantin.

Ia menegaskan bahwa saweran jauh dari unsur syirik. Sebaliknya, tradisi ini justru mengandung nilai-nilai agama yang kuat, yaitu bersedekah dan berbagi kebahagiaan.

"Tidak ada aktivitas yang melanggar hukum negara maupun agama. Justru ini mengajarkan kita untuk tidak pelit. Apalagi dalam momen Iktifalan (perayaan kenaikan kelas madrasah), orang tua yang menyawer anaknya saat tampil hafalan adalah bentuk dukungan nyata bagi dunia pendidikan," tambahnya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar