Nginang: Tradisi Kecil yang Simpan Identitas Budaya Banten

Oleh Arifin Al Bantani
 
Di tengah modernisasi yang cepat, banyak tradisi lokal memudar dari ingatan masyarakat. Salah satunya adalah nginang, kebiasaan mengunyah sirih yang dulu lekat dengan kehidupan sosial Banten. Meski sederhana, nginang menyimpan nilai budaya yang refleksikan cara orang Banten bangun relasi, hormati sesama, dan maknai kebersamaan.
 
Tradisi nginang bukan hanya aktivitas mengunyah campuran sirih, pinang, kapur, dan gambir. Ia adalah bahasa sosial. Ketika ada tamu, menyuguhkan sirih adalah bentuk penghormatan seperti menyajikan makanan atau minuman. Tepak sirih di tengah pertemuan jadi simbol keterbukaan dan rasa saling percaya.
 
Dalam budaya Banten, nginang juga tunjukkan kesetaraan. Tidak ada sekat status sosial ketika orang duduk melingkar nginang. Petani, pedagang, tokoh adat, hingga pemuka agama bisa berbagi ruang, berbincang, dan bermusyawarah. Dari sini nilai gotong royong dan musyawarah tumbuh secara alami.
 
Namun, perubahan zaman membuat tradisi ini terpinggirkan. Generasi muda sering pandang nginang sebagai praktik kuno dan tidak higienis. Nilai kesehatan modern dan gaya hidup praktis membuatnya hanya muncul dalam acara adat atau perayaan budaya.
 
Meski demikian, hilangnya praktik nginang tidak harus berarti hilangnya nilai yang dikandungnya. Tradisi ini ajarkan bahwa interaksi sosial butuh waktu, kesabaran, dan kehadiran penuh. Nilai-nilai tersebut semakin relevan di era digital yang serba cepat dan individualistis.
 
Melestarikan nginang bukan berarti memaksa generasi muda mengunyah sirih, tapi menghidupkan semangat kebersamaan, penghormatan, dan dialog yang jadi intinya. Dengan memahami maknanya, nginang bisa tetap hidup sebagai identitas budaya Banten.
 
Tradisi nginang tunjukkan bahwa kebudayaan sejati tidak selalu megah atau rumit. Ia hidup dalam kebiasaan kecil yang sarat makna dan kebersamaan yang tumbuh alami. Ia adalah cermin kearifan masyarakat Banten dalam merawat hubungan antarmanusia.
 
Di tengah perubahan zaman, menjaga tradisi bukan hanya soal bentuk, tapi merawat nilai. Selama semangat silih asah, silih asih, silih asuh tetap hidup, nginang akan tetap ada dalam kehidupan sosial Banten. Ia jadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar, melainkan tumbuh kokoh di atasnya.
 
Nginang bukan hanya peninggalan masa lalu, tapi warisan kebijaksanaan yang ajarkan kita jadi manusia yang santun, beriman, dan berbudaya.

Posting Komentar

0 Komentar