CILEGON - Rabu, 18 Desember 2025, suasana SD YPWKS II terasa berbeda. Bukan sekadar hari pengambilan rapor, melainkan momen ketika anak-anak diberi ruang untuk bercerita tentang dirinya sendiri.
Melalui Student Led Conference (SLC), sekolah menghadirkan pertemuan yang mempertemukan sekolah dan keluarga dalam dialog yang lebih bermakna.
Dalam kegiatan ini, siswa memimpin percakapan. Dengan bahasa mereka sendiri, anak-anak menyampaikan proses belajar, capaian, tantangan, serta harapan yang ingin mereka sampaikan kepada orang tua. Guru hadir sebagai pendamping, sementara orang tua mengambil peran sebagai pendengar.
Kepala SD YPWKS II, Feryna, menjelaskan bahwa SLC dirancang sebagai jembatan komunikasi antara sekolah dan keluarga. Menurutnya, pembelajaran tidak berhenti pada nilai rapor, tetapi pada bagaimana anak memahami proses belajarnya dan mampu mengungkapkannya.
“Student Led Conference memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang dirinya sendiri. Kami ingin orang tua mendengar langsung dari anak, bukan hanya dari guru atau angka-angka di rapor,” ujar Feryna.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga melatih keberanian, kejujuran, dan rasa tanggung jawab siswa terhadap proses belajarnya. Sekolah berharap nilai-nilai tersebut dapat tumbuh seiring dengan keterlibatan aktif orang tua di rumah.
Respon positif datang dari orang tua murid yang mengikuti SLC. Salah satu orang tua menyampaikan kesan mendalam atas pengalaman tersebut.
“Terima kasih Bapak Ibu guru, benar-benar dibuat terharu saat pengambilan rapor tadi sampai tak terasa air mata mengalir deras. SLC sangat bermanfaat bagi kami selaku orang tua dan jadi mengetahui apa yang anak harapkan dari orang tuanya. Sukses selalu untuk SD YPWKS II,” tuturnya.
Secara tidak langsung, kegiatan ini membuka ruang refleksi bagi orang tua untuk lebih memahami kebutuhan emosional anak, sekaligus memperkuat hubungan antara anak dan keluarga dalam mendukung proses belajar.
Melalui Student Led Conference, SD YPWKS II menegaskan perannya bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai mitra keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Dari sekolah untuk keluarga, cerita-cerita kecil yang lahir dari hati anak menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bersama. (*)
0 Komentar