Oleh: Arifin Al Bantani
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa persatuan. Mereka membuktikan bahwa perbedaan bisa bersatu dalam cinta kepada Indonesia.
Persatuan bukan berarti sama persis, melainkan berdiri bersama tanpa kehilangan jati diri. Kebangsaan dibangun dari rasa saling percaya dan cita-cita yang sama.
Kini, ikrar itu tetap relevan. Kemerdekaan yang kita nikmati tidak boleh ternoda oleh prasangka dan perpecahan. Persatuan harus diperjuangkan setiap hari, bukan hanya saat peringatan hari besar.
Cinta tanah air terlihat dari tindakan nyata: jujur, menjaga lingkungan, dan memastikan keadilan bagi semua. Bangsa yang besar adalah yang menempatkan kemanusiaan di atas segalanya.
Generasi muda dipanggil menjadi pelopor perubahan. Bijaklah di tengah derasnya informasi, dan jadilah penjaga nilai-nilai luhur bangsa.
Mari kita jaga persatuan. Bangun jembatan, bukan tembok. Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan, melainkan amanah yang terus kita perjuangkan demi Indonesia yang lebih baik.
0 Komentar