Abuya Dimyati Cidahu: Ketika Dunia Kehilangan Keheningan

Oleh Arifin Al Bantani

Di zaman ini manusia begitu mudah berbicara tentang agama, tetapi semakin sulit menghadirkan ketenangan. Mimbar-mimbar penuh suara, media sosial penuh nasihat, namun hati manusia tetap gelisah seperti musafir yang kehilangan arah di tengah padang yang bising.

Kita hidup di era ketika manusia mengenal banyak hal, tetapi lupa cara bersujud dengan jiwa yang utuh.

Pada keadaan seperti inilah sosok Abuya Dimyati Cidahu Pandeglang menjadi sangat penting untuk dikenang. Bukan hanya sebagai ulama kharismatik dari Banten, melainkan sebagai penjaga cahaya batin di tengah zaman yang semakin kehilangan keheningan.

Abuya Dimyati tidak dikenal karena gemerlap dunia. Beliau tidak membangun pengaruh dengan ambisi kekuasaan, tidak pula mengejar popularitas. Namun justru dari kesederhanaannya lahir kewibawaan yang tidak bisa dibeli oleh zaman.

Dalam tradisi para sufi, manusia seperti itu disebut “orang yang bercahaya karena Allah SWT lebih banyak hadir di hatinya daripada dunia.”

Beliau mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada kerasnya ucapan, melainkan pada bersihnya hati. Bahwa ilmu bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menundukkan ego. Dan bahwa jalan menuju Allah SWT tidak pernah dibangun oleh kesombongan merasa suci.

Hari ini generasi muda hidup dalam tekanan yang tidak ringan. Mereka dipaksa menjadi sempurna di hadapan dunia digital. Mereka berlomba terlihat bahagia, terlihat sukses, terlihat hebat—meski diam-diam jiwanya lelah.

Abuya Dimyati seakan datang membawa pesan sederhana namun dalam:
“Tenanglah. Tidak semua hal harus dipertontonkan kepada manusia. Ada hidup yang cukup dijalani bersama Allah. SWT”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru itulah obat bagi zaman yang terlalu haus pengakuan.

Beliau mendidik umat dengan keteladanan. Kesunyiannya menjadi pelajaran. Tawadhu-nya menjadi dakwah. Bahkan diamnya sering lebih menghidupkan hati dibanding ribuan pidato.

Sebab para wali tidak selalu mengubah manusia dengan banyak kata. Kadang mereka hanya mengubah arah hati manusia agar kembali mengenal Tuhannya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, warisan Abuya Dimyati bukan sekadar nostalgia ulama kampung. Ia adalah oase ruhani. Sebuah pengingat bahwa manusia modern tetap membutuhkan dzikir, membutuhkan adab, membutuhkan air mata taubat, dan membutuhkan hubungan yang jernih dengan Allah SWT 

Kita boleh membangun teknologi setinggi langit, tetapi jika hati manusia kosong dari kasih sayang dan keikhlasan, maka peradaban hanya akan melahirkan manusia-manusia canggih yang kesepian.

Abuya Dimyati mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari hati yang lembut. Dari lisan yang menjaga manusia lain dari luka. Dari tangan yang ringan menolong. Dan dari jiwa yang tidak merasa lebih tinggi dibanding siapa pun.

Inilah ajaran yang harus tetap hidup di tengah generasi sekarang.

Karena dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan manusia yang teduh. Manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa dekat dengan Tuhan.

Dan dari sebuah kampung bernama Cidahu, cahaya itu pernah lahir. Cahaya yang tidak berteriak, tetapi diam-diam menerangi begitu banyak jiwa.

Cahaya itu bernama Abuya Dimyati. 

Posting Komentar

0 Komentar