Wahai Umar,
namamu bukan sekadar gema sejarah— ia adalah desir angin yang menggetarkan dada, seperti azan yang lirih di antara sunyi subuh.
Di gurun yang keras,
engkau tumbuh laksana batu karang— namun di hadapan Tuhan hatimu adalah mata air
yang tak henti menangis. Betapa agung ketegasanmu,
namun lebih agung lagi gentar jiwamu.
Engkau takut jika seekor keledai terperosok di Irak,
karena merasa dirimu akan ditanya tentang kelalaiannya.
Wahai Umar,
malam-malammu adalah rahasia
antara engkau dan langit. Di saat dunia terlelap dalam mimpi kuasa, engkau terjaga dalam takut dan cinta— menyusuri lorong-lorong Madinah, mendengar napas rakyatmu
lebih dekat daripada detak jantungmu sendiri.
Cintaku padamu adalah rindu
pada zaman ketika pemimpin
lebih banyak menangis daripada dipuji, lebih takut pada hisab
daripada pada kehilangan jabatan.
Kini, wahai Umar, zaman kami bising oleh ambisi. Manusia memuja citra, namun lupa membersihkan jiwa. Keadilan sering menjadi slogan, bukan napas kehidupan.
Untuk generasi yang lelah ini—
dengarlah kisah Umar bukan sebagai dongeng masa lalu, tetapi sebagai cermin yang jujur.
Belajarlah bahwa kuat bukan berarti keras, bahwa berani bukan berarti angkuh. Bahwa air mata seorang pemimpin lebih berharga daripada pidato panjangnya.
Jika engkau tak mampu menjadi Umar, jadilah setidaknya bayangan kecil dari ketulusannya.
Takutlah berbuat zalim meski hanya pada dirimu sendiri. Takutlah pada Tuhan meski tak ada manusia yang melihat.
Wahai Umar, engkau telah pergi,
namun keadilanmu masih mengalir seperti doa yang tak pernah kering.
Dan kami— di tengah dunia yang retak oleh ego— ingin belajar kembali bagaimana mencintai Tuhan dengan keberanian,
dan mencintai manusia
dengan keadilan.
Semoga dari namamu,
lahir pemuda-pemuda
yang tegas namun bersujud,
yang memimpin namun merendah, yang dicintai bukan karena kuasa— melainkan karena takwanya.
0 Komentar