Kami berlari di tanah Cilegon
yang separuhnya sawah, separuhnya asap pabrik.
Klakson truk dan adzan Magrib
saling menyapa di udara sore.
Benteng kami bukan istana,
hanya pohon asem di tepi kampung, atau tiang listrik yang catnya mengelupas—namun di sanalah harga diri kami dititipkan.
Bentengan kami mainkan
setelah mengaji di langgar kecil,
sarung masih menggantung di bahu, kaki telanjang menjejak debu pelabuhan.
Kami belajar sejak dini:
hidup di Cilegon menuntut lari yang kuat dan hati yang tetap pulang.
Ada yang menjaga benteng
seperti orang tua menjaga kampungnya— diam, tegar, tak banyak bicara.
Ada yang menyerang
seperti buruh pagi yang menantang mesin,menyusup celah, membaca peluang, dan pulang membawa lelah yang halal.
Saat tertangkap,
kami tak pernah sendirian.
Selalu ada teman yang menunggu waktu,berlari dari gang sempit,
menyentuh tangan tawanan
dengan teriakan yang membebaskan.Begitulah kami diajari Cilegon:jatuh bukan aib,
asal masih ada yang mau kembali menjemput.
Benteng dalam permainan itu
pelan-pelan berubah nama.
Ia menjelma iman di tengah baja,
martabat di antara kepulan asap,
dan kejujuran di kota yang bergerak cepat. Kami tahu: jika benteng itu roboh, kita hanya jadi penonton di tanah sendiri. Cilegon mengajarkan kami tempo hidup.
Kadang harus berlari cepat
seperti pergantian shift pabrik,
kadang harus menunggu
seperti nelayan membaca angin Selat Sunda.
Bentengan mengajari kami keseimbangan itu—antara maju dan bertahan, antara dunia dan pulang.
Kini, lapangan tempat kami berlari
telah menjadi pagar besi dan beton.
Namun makna Bentengan tetap tinggal di tubuh orang-orang Cilegon:
setia pada yang dijaga,
berani menembus yang menindas,
dan selalu ingat jalan pulang.
Sebab hidup di Cilegon
bukan soal siapa yang paling cepat menyentuh benteng lawan, melainkan siapa yang sanggup
menjaga nilai di tengah kota baja
dan tetap manusia.
Bentengan mengajarkan harapan paling mendasar: bahwa hidup adalah gerak pulang dan pergi. Kita melangkah jauh untuk menemukan makna, lalu kembali untuk berbagi. Jika makna ini lestari, maka meski lapangan berubah rupa, anak-anak akan tetap “berlari”—bukan hanya dengan kaki, tetapi dengan kesadaran, keberanian, dan cinta pada sesama.
Anak2 adalah anugerah yg lbh berharga dari uang, karier dan jabatan..
0 Komentar