Lantunan Syeh dan Manaqiban serta Etika Sunyi Keimanan Kampung

Oleh Arifin Al Bantani

Di kampung Pabuaran Kelurahan Ciwedus Cilegon, agama tidak selalu hadir sebagai wacana. Ia lebih sering menjelma menjadi suasana. Salah satu wujud paling senyap dari kehadiran itu adalah tradisi membaca syeh dan manaqiban—lantunan panjang yang dibacakan perlahan, berulang, dan penuh pengendapan. Dalam lantunan tersebut, iman tidak dipamerkan, melainkan dirawat. Ia tumbuh sebagai pengalaman batin kolektif yang menautkan manusia dengan Tuhan melalui kesabaran suara.

Membaca syeh dan manaqiban bukan sekadar praktik ritual, melainkan bentuk spiritualitas lisan yang berakar pada ingatan. Kata-kata yang dilantunkan sering kali sederhana, namun diulang dengan penuh kesungguhan. Pengulangan itu bukan kemiskinan makna, melainkan metode penyucian batin. Dalam dunia yang serba cepat dan menuntut kepastian instan, syeh dan manaqiban mengajarkan pentingnya jeda—bahwa pemahaman religius membutuhkan waktu untuk meresap, bukan sekadar dikonsumsi.

Kisah-kisah yang hidup dalam syeh dan manaqiban umumnya berkisar pada perjalanan para nabi, wali, dan orang-orang saleh. Namun yang ditonjolkan bukanlah kemenangan atau kemegahan, melainkan keteguhan dalam penderitaan. Tokoh-tokoh suci digambarkan sebagai manusia yang diuji, bukan penguasa yang dimuliakan. Dari sana, kampung belajar satu etika penting dalam beriman: bahwa kedekatan dengan Tuhan sering kali lahir dari kesanggupan menanggung beban hidup dengan rendah hati.

Dalam perspektif kebudayaan, membaca syeh & Manaqiban membentuk ruang religius yang inklusif dan tidak konfrontatif. Ia tidak memproduksi batas-batas identitas yang kaku, melainkan menumbuhkan rasa kebersamaan yang lahir dari kesamaan pengalaman batin. Agama, melalui syeh dan manaqiban, hadir sebagai pengikat sosial yang lembut—tidak memaksa, tidak menyingkirkan, dan tidak menaklukkan.

Di tengah kecenderungan kontemporer yang menjadikan agama sebagai simbol kekuasaan dan alat legitimasi sosial, tradisi membaca syeh dan Manaqiban menawarkan arah yang berlawanan. Ia menempatkan agama kembali ke wilayah etika dan pengendalian diri. Tuhan dipanggil dengan rasa takut dan cinta sekaligus, bukan dengan klaim kepemilikan. Dengan demikian, syeh dan  manaqiban berfungsi sebagai penyeimbang terhadap ekspresi religius yang agresif dan eksklusif.

Secara estetik, membaca syeh dan manaqiban adalah sastra yang hidup. Ia tidak dibekukan dalam teks, melainkan bergerak dari suara ke suara, dari generasi ke generasi. Nada, jeda, dan irama menjadi bagian dari makna. Keindahan syeh dan Manaqiban terletak pada kesederhanaannya—pada kemampuannya menghadirkan yang sakral tanpa kemewahan bahasa. Inilah sastra religius yang tidak mengejar kekaguman, tetapi keheningan.

Namun, keberlanjutan tradisi ini menghadapi tantangan serius. Modernisasi dan budaya visual perlahan menggeser budaya dengar dan kontemplasi. Ketika ruang sunyi semakin menyempit, membaca syeh & Manaqiban berisiko kehilangan relevansinya. Padahal, yang terancam punah bukan hanya sebuah tradisi, melainkan satu cara beragama yang matang, sabar, dan berakar pada kebijaksanaan lokal.

Merawat tradisi membaca syeh dan manaqiban berarti merawat etika sunyi dalam kehidupan beragama. Ia bukan nostalgia, melainkan kebutuhan spiritual di tengah kebisingan zaman. Dalam konteks kebudayaan, syeh dan Manaqiban adalah pengingat bahwa agama tidak selalu harus tampil di ruang publik dengan suara keras. Ada kalanya, iman justru menemukan kekuatannya dalam bisikan yang terus dijaga.

Selama lantunan syeh dan manaqiban  masih terdengar di kampung-kampung, agama akan tetap memiliki wajah yang ramah dan manusiawi. Wajah yang tidak tergesa menilai, tidak tergoda berkuasa, dan tidak kehilangan kepekaan terhadap luka manusia. Di sanalah sastra religius menemukan tugasnya yang paling hakiki: menjaga hubungan antara manusia, tradisi, dan Tuhan dalam kesetiaan yang tenang.

Ketika agama di anut oleh Hawa nafsu, maka mencari kesalahan orang lain adalah ibadahnya.

Posting Komentar

0 Komentar