CILEGON – Gelombang perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang melanda dekade terakhir menempatkan Generasi Z dalam posisi unik, menjadi generasi penutup sebuah era yang sekarat, sekaligus jembatan menuju kelahiran peradaban baru.
Di tengah dunia yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan institusi dan sistem lama untuk menyesuaikannya, Gen Z tampil bukan sebagai generasi yang diminta zaman, melainkan generasi yang dibutuhkan sejarah.
Lahir di tengah guncangan global, krisis kepercayaan, fragmentasi sosial, dan percepatan digital yang tak terhindarkan, Gen Z tumbuh dalam dua realitas yang saling bertabrakan, yaitu dunia yang masih berpikir analog, dan masa depan yang sepenuhnya ditulis dalam bahasa kode.
Mereka menyaksikan keruntuhan tatanan lama, ekonomi yang limbung, politik yang kehilangan arah, serta budaya yang terfragmentasi, seraya dipaksa memetakan jalan baru bagi dunia yang bahkan belum lengkap bentuknya.
Generasi ini memikul transisi paling brutal dalam sejarah modern. Mereka dituntut bukan hanya untuk bertahan dalam pusaran ketidakpastian, tetapi pada saat yang sama menjadi pelopor yang membuka jalan bagi generasi berikutnya, khususnya Gen Alpha yang bersiap menjadi pembuka babak baru 2026.
Dalam momentum ini, suara generasi muda mulai nyaring terdengar. Salah satunya disampaikan oleh Kirania Azra Mahira, Bendahara Gen Cilegon, yang menegaskan bahwa generasi peralihan bukan lagi hanya penonton sejarah, mereka adalah penulisnya.
Kiran panggilan akrabnya, memberikan penegasan yang lebih menyeluruh. Dengan nada tenang namun tegas, ia menyampaikan bagaimana dirinya melihat Gen Z berdiri di tengah pusaran perubahan yang tak terhindarkan.
Menurutnya, generasi hari ini tidak lagi memiliki kemewahan untuk menunggu dunia berubah. Mereka harus mengubahnya sendiri.
“Kalau ini adalah panggung kita, maka kita tidak hanya bertahan, kita membangun,” ujar Kiran membuka pernyataannya.
“Kita tidak hadir hanya untuk meneruskan apa yang diwariskan, tetapi untuk menciptakan sesuatu yang lebih adil, lebih jujur, dan lebih manusiawi," tambahnya.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“Hari ini, kami tidak lagi bertanya ‘mengapa kami memikul beban ini?’ Kami sudah tahu jawabannya. Karena masa depan tidak menunggu. Dan karena kami adalah generasi yang berani mengambil alih kendali," jelasnya.
Kirania juga menegaskan bahwa tahun 2026 bukan sekadar pergantian kalender, tetapi permulaan narasi baru. Halaman kosong yang harus ditulis dengan tangan generasi mereka sendiri.
“Pertanyaan kami sekarang adalah, ‘apa langkah pertama untuk membuka babak baru 2026?’ Jawabannya jelas, kami mulai dengan kesadaran, keberanian, dan kolaborasi. Kami belajar lebih cepat, bekerja lebih jernih, dan bergerak lebih sigap," ucap Kiran.
Ia menambahkan, saat Gen Z mengubah keresahan menjadi gagasan, dan gagasan menjadi tindakan.
"2026 adalah halaman kosong tempat kami menulis takdir kami sendiri. Di panggung ini, kami tidak lagi menunggu giliran, kami menciptakan giliran itu,” tegasnya.
Suara Kirania merepresentasikan denyut yang sama di antara banyak anak muda lainnya. Sebuah keyakinan bahwa Gen Z bukan hanya generasi yang terjebak di tengah perubahan, tetapi generasi yang memimpin perubahan itu sendiri.
Dalam konteks yang lebih luas, lanjut Kiran, Gen Alpha disebut sebagai generasi yang akan memulai babak besar setelah 2026.
Namun pintu menuju babak itu, saat ini sedang dibuka oleh Gen Z, melalui keberanian mereka membaca ulang masa depan dan menolak menjadi penonton sejarah.
Dari Cilegon, sebuah pesan mengalir, bahwa generasi peralihan ini bukanlah generasi yang pasrah dibentuk zaman, melainkan generasi yang memilih membentuk zaman itu sendiri. (*)
0 Komentar